Beranda Taman Story of Garden Cafe (3)

Story of Garden Cafe (3)

111
0

Keluar Kota Berburu Bunga

Pelan tapi pasti, lahan kosong yang sebelumnya penuh ilalang itu mulai jadi taman. Bunga dan tanaman terus bertambah. Bunga-bunga itu ditata dengan rapi dan indah agar menarik minat pembeli.

Awalnya, saya mencatat uang keluar untuk beli tanah hitam, pot, peralatan dan bunga. Ternyata, bisnis tanaman perlu modal besar. Nah, saat rapat di luar kota, saya berburu bunga.

Antara lain, di Surabaya, Medan dan Balikpapan. Pernah saya dapat bunga murah di Pekanbaru. Bunga itu saya bawa ke kamar hotel. Biar tidak berat dan gampang dibawa, tanahnya saya congkel pakai sendok, pot dibuang lalu bunga disusun rapi dalam kardus. Bawa ke Batam pakai pesawat masuk bagasi.

Medan terkenal banyak bunga. Saya datang ke Kampung Bunga di Gang Mardisan, arah ke Tanjung Morawa. Alamak! Semua rumah menjual bunga.

Teman saya menyarankan, parkir mobil jauh-jauh, menawar bunga jalan kaki agar harga lebih murah. Pernah juga saya naik becak motor mencari bunga di Medan. Becaknya ngebut, jalan melawan arus. Saya ketar-ketir, lalu minta turun. Rencana, cari becak lain, eh ketemu dia lagi. “Kenapa Bang?” katanya, heran. Aku takut kau ngebut, kata saya.

Sayangnya, tak semua bunga yang saya dapat dari berbagai kota itu, hidup sampai di Batam. Ada yang stres, lalu mati. Cuaca Batam yang panas, hujan lokal dan tanah bercampur bauksit membuat bunga sulit tumbuh. 

Untungnya, saya membuat sumur bor sehingga sangat membantu menyiram tanaman. Untuk melindungi tanaman yang tak tahan panas dan matahari, saya membuat green house. Inilah kelak yang dimodifikasi jadi Garden Cafe. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here