Beranda News Asman Abnur : Pebisnis dan Politisi Tangguh dari Batam (1)

Asman Abnur : Pebisnis dan Politisi Tangguh dari Batam (1)

44
0

Asman Abnur adalah tokoh nasional kebanggaan Batam dan Kepulauan Riau. Ia harus membagi waktu untuk urusan bisnis, politik dan keluarga. Siapa dan bagaimana sosok Asman Abnur?

Sebagai pengusaha, bisnisnya berjalan lancar dan terus berkembang. Sebagai politisi, ia menapak dari bawah.  Dari anggota DPRD, Wakil Wali Kota Batam, meloncat ke Senayan, menjadi anggota DPR RI empat kali, dan menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Kini, Asman Abnur adalah calon Ketua Umum Partai Amanat Nasional.

Asman Abnur lahir 2 Maret 1961 di Padang Pariaman, Sumatera Barat.   sejak balita Asman bersama keluarganya sudah hijrah ke Pulau Bintan, tepatnya di Kijang Tanjungpinang. Baru setelah Asman remaja, keluarganya pindah ke Pulau Batam, sampai sekarang.

Sejak kecil, bakat kepemimpinannya sudah kelihatan. Ia selalu dipercaya menjadi ketua kelas dan aktif sebagai pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Mulai saat masih duduk di bangku SD di Kijang, Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Kota Gurindam Tanjungpinang.

Prestasi belajar, putra pasangan H Aburuddin Hamzah  dengan Hj Nur Cahya ini pun cemerlang. Beberapa kali ia menjadi  juara kelas. Dalam pergaulan, Asman dikenal supel dan ramah. Ia terbiasa bergaul dengan berbagai suku sehingga ia sangat memahami keragaman etnis, suku dan agama.

Berasal dari keluarga pengusaha yang ulet, jiwa bisnis Asman mulai diasah dan ditularkan sejak dini. Ayahnya pedagang emas sejak tahun 1980-an. Sejak duduk di bangku SMEP, Asman sudah dididik menjadi pedagang. Setiap pulang sekolah, ia diwajibkan untuk belajar mengetok perak dan emas. Bahkan tidak jarang dipercaya untuk menimbang emas. “Awalnya sempat grogi. Takut salah,” kata Asman, tertawa  mengenang masa remajanya belajar jadi  pengusaha.

Lulus Tes BI, Disuruh Ayah Berdagang

Sejak muda, Asman bercita-cita jadi bankir di Bank Indonesia. Setamat sekolah menengah, Asman melanjutkan pendidikannya ke Padang dan Jakarta.  ” Saya ingin bekerja di Bank Indonesia. Pakai dasi dan keren,’’ katanya.

Ternyata, setelah mengantongi ijazah sarjana ekonomi di Trisakti  dan lulus tes masuk sebagai bankir di Bank Indonesia, ayahnya keberatan. ‘’Adik-adikmu masih kecil-kecil. Kalau kamu kerja di bank, tak bisa membantu keluarga. Kamu jadi pedagang saja, meneruskan usaha kita,’’ kata Asman menirukan ayahnya saat itu.

Asman terperangah. ‘’Saya menangis. Masak sudah lulus dan diterima di BI disuruh jadi pedagang,’ katanya. Ia merasa tidak pantas jadi pedagang. Dengan berat hati, Asman mengambil keputusan jadi pedagang. Syaratnya, seluruh manajemen usaha dia yang mengelola. ‘’Termasuk, kunci laci uang yang selalu dibawa ayah saya kemana-mana, harus diserahkan kepada saya,’’katanya, terbahak.

Awalnya, Asman menjual emas di kios kecil di samping hotel Nagoya Plaza. Ia melakukan gebrakan dengan membuka toko emas yang luas, ber AC dan nyaman buat pengunjung. Ayahnya marah karena Asman dianggap menghambur-hamburkan uang.

Tapi Asman jalan terus. Ia yakin, pengunjung akan berdatangan apabila tokonya bagus, bersih dan nyaman. Itu sebabnya, banyak orang Batam yang lebih senang berbelanja di Singapura. ‘’Saya ingin orang Batam tidak hanya belanja ke Singapura,’’ katanya.

Asman benar. Pembeli meningkat, omset bertambah. Dalam tempo enam bulan, ia berhasil meningkatkan penjualan toko emas berlipat ganda. Dengan ilmu yang dipelajarinya, Asman mengelola bisnisnya secara profesional. Tidak boleh ada pengeluaran tanpa catatan dan selalu dievaluasi perkembangannya. ‘’Jadi pengusaha atau entrepreneur itu gampang-gampang susah,’’ katanya.

Menjadi Pengusaha Kawakan

Dari usaha awal berdagang emas, bisnis Asman merambah ke berbagai bidang. Mulai money changer, apotik, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) rumah makan, café dan restoran, pusat kebugaran, lapangan futsal, dua Bank Perkreditan Rakyat. Toko emas dan money changer-nya saja berjumlah puluhan.

Lima tahun terakhir, Asman Abnur membangun Masjid Jabal Arafah dan mendirikan Batam Tourist Polytechnic (BTP) dan Institut Teknologi Batam (ITEBA) di kampus seluas 26 hektar di Tiban, Sekupang, Batam. Juga bisnis pembibitan tanaman hias sekaligus menyuplai kebutuhan sendiri mewujudkan cita-citanya memiliki green campus. Asman percaya dengan kekuatan tim. Ia juga rutin mengevalusi kemajuan setiap unit usahanya dengan cara modern dan profesional.

Meski sibuk sebagai pengusaha dan jaringan bisnisnya, Asman Abnur juga aktif berorganisasi. Ia mejadi Ketua Asosiasi Perdagangan Valuta Asing (APVA) Batam tahun 1990 sampai 1992. Lalu menjadi Ketua organisasi pengusaha muda HIPMI Batam dari tahun 1995 hingga 1998.

Setahun kemudian, ia loncat lagi menjadi ketua organisasi para pengusaha Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam dari tahun 1999 sampai 2004. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua Tim Pengkajian Free Trade Zone Batam dan Bazis Batam.

 Terjun ke Dunia Politik

Dari bisnis dan dunia usaha, Asman Abnur lalu meloncat ke dunia politik. Sejak awal, Asman menjatuhkan pilihan pada Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikan tokoh reformasi Prof Amien Rais. Asman Abnur menjadi kader PAN sejak tahun 1999, sampai sekarang.

Pada tahun 2000, Asman Abnur memulai karir politiknya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam dari Fraksi PAN. Hanya sekitar delapan kemudian, Asman didaulat mendampingi Nyat Kadir sebagai Wakil Wali Kota Batam. Pasangan yang saat itu masih dipilih oleh anggota dewan berhasil unggul dan terpilih sebagai pasangan Walikota dan Wakil Walikota Batam Periode 2001-2006.

Karir politik Asman Abnur terbilang cemerlang dan terus bersinar. Tiga tahun menjadi Wakil Wali Kota Batam, Asman hijrah ke Senayan. Ia terpilih menjadi anggota DPR RI pada pemilu legislatif tahun 2004. Asman dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi XI yang membidangi keuangan.

Pada Kongres PAN ke 2 di Semarang 10 April 2005, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir yang menggantikan Amien Rais, mempercayai Asman Abnur sebagai Bendahara Umum DPP PAN.

Sedangkan pada Kongres PAN ke 3 tanggal 9 Jauari 2010 di Batam yang memilih Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum periode 2010 – 2015, Asman Asman Abnur terpilih sebagai Ketua Badan Ekonomi.

Pada Kongres PAN ke 4 tanggal 1 Maret 2015, Zulkifli Hasan terpilih menjadi Ketua Umum DPP PAN periode 2015-2020. Asman Abnur dipercaya sebagai salah satu Wakil Ketua Umum.

Kongres PAN yang ke 5 yang diperkirakan diselenggarakan Maret 2020, Asman Abnur maju sebagai salah satu calon Ketua Umum PAN periode 2020-2025 mendatang. ’’Niat saya adalah memperbaiki yang belum bagus dan melanjutkan yang sudah baik, serta melakukan terobosan-terobosan baru demi kemajuan partai,” kata Asman Abnur kepada wartawan. (bersambung)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here