Beranda News Asman Abnur : Janji pada Ayah Bangun Masjid Jabal Arafah (4)

Asman Abnur : Janji pada Ayah Bangun Masjid Jabal Arafah (4)

66
0

Asman Abnur mendapat amanat dari sang ayah. Bangun sebuah masjid. Lahannya di jantung kota. Kini, kedua orang tua Asman, H Aburuddin Hamzah dan Hj Nurcaya –nama keduanya disingkat menjadi Abnur– di belakang nama Asman, menyaksikan masjid itu menjadi kebanggaan warga Batam dan ikon wisata religi.

Asman Abnur menepati janjinya. Ia tidak mau setengah-setengah. Lokasinya di kawasan Pelita, Kecamatan Lubuk Baja. Luasnya 4.607,4 m2. Kontur tanahnya berbukit-bukit. Sebelum dibangun, lahan itu dipenuhi rumah kumuh dan liar. Saat mau dibangun, ada pengusaha yang menawarkan kerjasama membangun hotel bintang lima. Tapi, H Aburudin Hamzam, ayah Asman, menolak.

Asman terus didesak sang ayah agar membangun masjid. Namun, Asman saat itu hanya menyodorkan gambar dan desain masjid. Asman berkeliling Asia dan Eropa, mencari inspirasi membangun masjid di lahan terbatas, tapi nyaman. Ada dua masjid yang memikat hatinya, di Turki dan di kawasan Hougang, Singapura.

Masjid yang diberi nama Jabal Arafah itu, didesain empat tingkat. Lantai I untuk pusat pertemuan, seminar, convention centre. Lantai II ruang salat pria. Lantai III ruang salat wanita dan lantai IV sebagai ruang belajar. Arsitek masjid ini Haufi Sukma Median. Tanggal 8 Januari 2010 prasasti dimulainya pembangunan masjid ini ditandatangani Hatta Radjasa. Diproyeksikan, pembangunan masjid ini menelan biaya Rp25 miliar.

Masjid Jabal Arafah dirancang dengan konsep modern dan arsitektur minimalis. Kontur tanah, dimaksimalkan sedemikian rupa. Selain tempat salat, juga dibangun aula resepsi pernikahan, ruang pertemuan, pustaka, restoran dan café, minimarket, penitipan sepatu, kantor pengelola, ruang remaja masjid, dan tenda mitra usaha yang menjual souvenir, obat herbal dan parfum.

Di bawah tangga utama masjid Jabal Arafah, ada dua kolam ikan yang bersih. Taman masjid Jabal Arafah dihiasi pohon oliana, pohon palem dan kurma serta tanamanperdu magnolia yang aromanya mengusir nyamuk. Di jalan masuk ke masjid, ditanami pohon Ketapang Kencana yang berjejer rapi. Sedangkan di lereng bukit ditanami pohon oliana atau pucuk merah.

Tempat berwudhu dan toilet adalah bagian krusial sebuah masjid. Masjid Jabal Arafah memiliki tempat wudhu dirancang dengan baik. Mulai dari kebersihan, lantai yang kering, ketersediaan air, sirkulasi udara dan ventilasi yang besar. Begitu juga toilet dan urinoir dirancang tetap bersih dan tidak dilalui Jemaah setelah berwudhu. Juga disediakan keset penyerap kaki basah, dan tempat berwudu ini bebas aroma tidak sedap.

Masjid Jabal Arafah mulai dibangun November 2011.Dalam tempo satu tahun delapan bulan, masjid ini rampung. Mulai Jumat, 13 Juli 2012 masjid ini diresmikan dan  dibuka untuk umum.  Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan meresmikan beroperasinya masjid tersebut. Sekaligus, Salat Jumat perdana, dengan KH A Cholil Ridwan Lc, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Setelah itu, Asman Abnur membangun sebuah tower setinggi 38 meter dan diberi nama Menara Jabal Arafah (MJA) Tower, yang diresmikan 19 Maret 2014. Dari menara yang dilengkapi dengan lift ini, bisa melihat wajah kota Batam dari ketinggian. Jika cuaca cerah, bisa melihat lalu lintas kapakl di selat Phillip serta gedung pencakar langit di Singapura. MJA Tower bisa menampung 60 orang sekaligus, dilengkapi dengan restoran dan kafe serta teropong binocular. MJA Tower yang bisa menampung hingga 60 orang sekaligus.

Masjid Jabal Arafah didirikan tidak hanya sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pemberdayaan umat, pelatihan dan pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat Islam serta menjadi destinasi wisata religi.

Tidak heran, kini Masjid Jabal Arafah menjadi kebanggaan warga Batam dan Kepulauan Riau. Selama dua tahun, Yayasan Arafah juga menerbitkan tabloid Media Islam, yang diluncurkan di Masjid Jabal Arafah oleh Gubernur Kepri almarhum HM Sani dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat Alamrhum Tarman Azzam.

Masjid Jabal Arafah memiliki petugas kebersihan dan pertamanan dengan peralatan modern. Misalnya, menggunakan blower untuk membersihkan dedaunan dan sampah di areal masjid.

Masjid Jabal Arafah juga memiliki perpustakaan modern untuk umum. Koleksi bukunya sebanyak 8.245 buku. Beragam koleksi tersedia, baik itu buku umum; bisnis, hobi, bahasa, motivasi, sejarah, psikologi, dan tentu saja buku-buku Islami. Pustaka seluas 50m2 itu terasa nyaman dan dilengkapi lima unit komputer untuk mengakses internet.

Pustaka Masjid Jabal Arafah dibuka sejak 7 Juli 2013 dan diresmikan oleh 7 November 2013 oleh Sri Sularsih, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sejak November 2015, pustaka Masjid Jabal Arafah juga dilengkapi dengan BI Corner. Dan pada tahun 2018, Masjid Jabal Arafah salah satu penerima Penghargaan Pojok Baca BI Terbaik 2018 dari Bank Indonesia.

Aktivitas di Masjid Jabal Arafah sangat padat. Mulai dari pelaksanaan ibadah salat lima waktu, acara pernikahan, konseling keluarga sakinah secara gratis, pengajian rutin, Pondok Bahasa Arab, Lembaga Amil Zakat, kemitraan usaha dan sosial. Kajian Islam, lomba azan, konser nasyid dan rebana dan sebagainya.

Sejumlah mubalig kondang pun pernah mengunjungi masjid termegah tersebut. Di antaranya KH Arifin Ilham, Ustad Bachtiar Nasir, KH Abdullah Gyamnastiar alias Aa Gym, Imam Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Yakob, Lc, mantan Ketua MPR RI Amien Rais, serta beberapa tokoh nasional lainnya.

Masjid Jabal Arafah juga dikembangkan menjadi masjid pintar (smart mosque). Setelah menjadi masjid percontohan dengan manajemen modern selama 8 tahun, masjid Jabal Arafah menargetkan sertifikat ISO 9001. Targetnya, tahun 2021. Usaha untuk mencapai sertifikat ini, manajemen Jabal Arafah terus melakukan studi banding di beberapa masjid, seperti ke Masjid Sultan Singapura, Masjid Da’arut Tauhid Bandung, Masjid Namirah Lamongan, Masjid Al Ikhlas, Masjid Jagakarsa, dan Masjid Jogokariyan.

Masjid ini juga terus digesa dengan standar internasional, seperti halnya papan informasi LED, imam maupun ustaz yang bertugas pun harus memiliki kecakapan minimal dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Rencananya, masjid Jabal Arafah juga ditargetkan memiliki hotel syari’ah, sehingga ekonomi masjid berjalan secara mandiri tidak hanya bergantung pada pemasukan infak saja.

Sejak 1 Februari 2019, Masjid Jabal Arafah dipimpin dan dikelola oleh seorang Chief Executive Officer (CEO) yang dipercayakan kepada Drs H Buralimar yang juga Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau.

Tugas Buralimar sebagai CEO Masjid Jabal Arafah antara lain, mengelola manejemen, administrasi dan Sumber Daya Manusia serta mengupayakan agar Masjid Jabal Arafah menjadi masjid yang paripurna dan smart masjid.

‘’Ada lima misi Masjid Jabal Arafah. Yakni, masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah umat Islam, pusat pendidikan dan pemberdayaan umat, pusat bisnis dan wisata religi, pusat pembinaan umat serta pusat informasi dan teknologi,’’ papar CEO Masjid Jabal Arafah, Buralimar.

Selain menjadi CEO Jabal Arafah, Buralimar juga memenej Masjid Baitul Makmur. Masjid Baitul Makmur berlokasi di kawasan Bukit Senyum. Badan Pengusahaan (BP) Batam menyerahkan pengelolaan Masjid Baitul Makmur seluas 652m2 itu kepada Yayasan Arafah, 9 Maret 2018 dan menandatangani nota kesepahaman yang disaksikan Kepala BP Batam saat itu, Lukita  Dinarsyah Tuwo dan Asman Abnur sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Arafah.

Direncanakan, sebuah tower setinggi 45 meter juga akan dibangun di Masjid Baitul Makmur sehingga diharapkan menjadi destinasi wisata religi Batam. Masjid Baitul Makmur dibangun pada tahun 1972 hingga 1975 dan merupakan salah satu masjid tertua di Batam. Masjid bersejarah ini pernah dikunjungi beberapa menteri di era Presiden Soeharto dan menunaikan salat Jumat di Baitul Makmur.

Selain itu, juga digagas membangun hotel syariah berdampingan dengan Masjid Jabal Arafah. ‘’Bapak Asman Abnur mantan atasan saya saat menjadi Wakil Wali Kota Batam. Beliau orang yang visioner,’’ kata Buralimar. ***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here